Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Shell Shock, Pengertian Sejarah dan Hubungannya dengan Kondisi Saat Ini

Serangan Panik (Panic Attack)

Seorang prajurit dapat mengalami serangan panik (panic attack) saat berada dalam posisi diserang (ditembak) karena merasa ketakutan, stres, dan trauma yang intens. Kondisi ditembak yang tiba-tiba dan tidak terduga, dapat memicu respons psikologis “melawan atau lari (fight or flight)” dalam tubuh manusia yang akan mengakibatkan gejala fisik seperti detak jantung yang cepat, berkeringat, gemetar, dan sesak napas (Pierce & Hicks, 1998). Pada dasarnya respons “melawan atau lari” ini adalah mekanisme bertahan hidup yang mempersiapkan tubuh manusia untuk melawan ancaman atau melarikan diri dari bahaya.

Dalam situasi tempur, seorang prajurit tidak memiliki pilihan untuk melarikan diri karena ia pasti akan mendapat perintah untuk tetap tinggal dan bertempur, sehingga akan terjadi peningkatkan perasaan cemas dan panik. Sayangnya dalam kontak tembak antara KST dan TNI, peran komandan tim untuk mengendalikan situasi tidak ada. Sehingga prajurit yang panik makin tidak terkendali. Sedangkan respons yang diharapkan bagi prajurit dalam kontak tembak ini adalah fight (bertempur) dan bukanya malah flight (lari) seperti hasil temuan investigasi.

Pengalaman ditembak ini, dapat menciptakan terjadinya trauma, yang akan membuat prajurit tersebut merasa tidak berdaya, terancam dan mengalami ketakutan (Friedman, 2013). Masalahnya bagi prajurit, trauma dapat memiliki efek mendalam pada pikiran dan tubuh manusia, dan dapat mengakibatkan berkembangnya kondisi yang disebut Shell Shock (kini disebut Post Traumatic Stress Disorder -PTSD).



Shell-Shock

Shell shock, juga dikenal sebagai sindrom stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder/PTSD), adalah sebuah kondisi yang terkait dengan pengalaman trauma yang intens, terutama yang terjadi selama perang. Istilah "shell shock" pertama kali digunakan selama Perang Dunia I untuk menggambarkan kondisi psikologis yang muncul pada para tentara yang terkena dampak serangan artileri yang berat. Banyak tentara mengalami gejala fisik dan psikologis yang parah, seperti kebingungan, tremor, kecemasan berlebihan, kehilangan ingatan, dan reaksi refleks yang tidak terkendali. Pada awalnya, kondisi ini sering disalahartikan sebagai "kelemahan mental" atau "ketidakmampuan" oleh banyak komandan militer.


Shell shock memiliki akar sejarah yang erat dengan Perang Dunia I. Selama perang ini, tentara mengalami kondisi yang sebelumnya tidak diketahui secara luas. Banyak tentara di garis depan yang terkena serangan artileri yang intens, serangan gas, dan pertempuran yang mengerikan mulai mengalami gejala fisik dan psikologis yang parah. Mereka menunjukkan tanda-tanda kebingungan, tremor, kecemasan berlebihan, reaksi refleks yang tidak terkendali, dan kehilangan ingatan.


Pada awalnya, reaksi ini sering dianggap sebagai kelemahan mental atau kurangnya disiplin dalam tentara. Beberapa dokter pada waktu itu bahkan mengaitkan gejala ini dengan masalah fisik atau saraf yang tidak teridentifikasi. Namun, seiring berjalannya perang, semakin banyak kasus yang muncul dan semakin sulit untuk mengabaikan fenomena ini.

Pada tahun 1915, Rumah Sakit Pertahanan Maudsley di London membuka unit khusus untuk merawat tentara yang mengalami gejala-gejala tersebut. Dalam upaya untuk memahami kondisi ini dengan lebih baik, istilah "shell shock" mulai digunakan. Istilah ini merujuk pada pengaruh meledaknya proyektil artileri (shell) terhadap psikologis dan emosional tentara.


Selama Perang Dunia I, lebih dari 80.000 tentara Inggris dinyatakan menderita shell shock. Mereka yang terkena dampak sering kali dipindahkan dari garis depan ke rumah sakit jiwa atau rumah sakit yang khusus merawat kasus shell shock. Berbagai pendekatan pengobatan dicoba, termasuk terapi elektrokonvulsif, hipnosis, dan terapi bicara. Meskipun beberapa pasien berhasil pulih, banyak lainnya tetap mengalami efek jangka panjang dari trauma perang.

Setelah Perang Dunia I, istilah "shell shock" mulai digantikan oleh istilah "kelemahan perang" (war neurosis) atau "kelelahan perang" (war fatigue). Namun, pada Perang Dunia II, istilah "post-traumatic stress disorder" (PTSD) mulai digunakan untuk merujuk pada kondisi yang serupa. Di era modern, PTSD menjadi istilah yang lebih umum digunakan untuk menggambarkan gangguan yang timbul akibat trauma yang dialami selama perang, bencana alam, kekerasan domestik, atau pengalaman traumatis lainnya.


Sejarah shell shock menjadi titik awal untuk memahami dan mengakui dampak trauma psikologis yang diakibatkan oleh pengalaman perang atau kejadian traumatis lainnya. Dalam dekade terakhir, penelitian dan pemahaman tentang PTSD terus berkembang, membantu dalam diagnosis, pengobatan, dan dukungan bagi individu yang terkena dampak.


Shell shock melibatkan kompleksitas interaksi antara stresor lingkungan, faktor risiko individu, dan kerentanan psikologis. Faktor-faktor risiko meliputi paparan trauma yang ekstrem, kepekaan individu terhadap stres, ketidakpastian dalam pertempuran, kurangnya dukungan sosial, dan pengalaman masa lalu yang traumatis. Gejala shell shock dapat beragam, mulai dari reaksi psikologis seperti kecemasan, perubahan suasana hati, dan perilaku yang impulsif, hingga gejala fisik seperti sakit kepala, gangguan tidur, dan masalah pencernaan.

Beberapa contoh kasus shell-shock

  1. Perang Dunia I: Pada Perang Dunia I, banyak tentara mengalami shell shock, terutama di garis depan. Mereka mengalami trauma akibat serangan artileri yang intens, dan gejalanya meliputi kebingungan, tremor, dan reaksi refleks yang tidak terkendali.
  2. Perang Vietnam: Shell shock juga terjadi selama Perang Vietnam. Pasukan Amerika Serikat yang menghadapi kondisi pertempuran yang ekstrem dan paparan trauma yang berkepanjangan, seperti serangan tembak, serangan bom, dan perlakuan yang tidak manusiawi, mengalami gejala shell shock yang beragam.
  3. Veteran Perang Irak dan Afghanistan: Pasukan yang bertugas dalam konflik di Irak dan Afghanistan sering mengalami shell shock. Paparan terhadap serangan roket, serangan bom improvisasi, dan pertempuran yang mematikan telah menyebabkan banyak veteran mengalami PTSD.
  4. Bencana alam: Selain perang, bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, atau badai besar juga dapat menyebabkan shell shock pada individu yang terlibat. Korban yang mengalami kehilangan yang signifikan, trauma fisik, atau kehilangan orang yang dicintai dapat mengembangkan gejala PTSD.
  5. Kekerasan domestik: Individu yang menjadi korban kekerasan domestik, baik secara fisik maupun emosional, rentan mengalami shell shock. Trauma yang dialami dalam hubungan tersebut dapat menyebabkan gejala PTSD yang serupa dengan yang dialami oleh veteran perang.

Penting untuk dicatat bahwa shell shock atau PTSD adalah gangguan serius yang mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Pengobatan dan dukungan yang tepat sangat penting untuk membantu individu yang mengalami gangguan ini. Terapi psikologis, dukungan sosial, dan dalam beberapa kasus, pengobatan medis dapat membantu mengelola gejala dan memulihkan individu yang terkena dampak.


Sebagai Kesimpulan, shell shock atau sindrom stres pascatrauma adalah gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami pengalaman trauma yang intens, terutama yang terjadi selama perang. Hal ini seringkali terjadi pada individu yang mengalami paparan trauma yang ekstrem dan dapat menyebabkan gejala fisik dan psikologis yang parah


Beberapa referensi dan buku yang dapat menjadi sumber tambahan untuk memperdalam pemahaman tentang shell shock adalah:

  1. "The Evil Hours: A Biography of Post-Traumatic Stress Disorder" oleh David J. Morris.
  2. Buku ini menjelajahi sejarah dan pengobatan PTSD serta memberikan wawasan yang mendalam tentang pengalaman individu yang terkena dampak.
  3. "The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of Trauma" oleh Bessel van der Kolk, M.D.
  4. Buku ini menggambarkan bagaimana trauma mempengaruhi otak, pikiran, dan tubuh manusia, termasuk diskusi tentang PTSD dan metode pengobatan yang efektif.
  5. "War and the Soul: Healing Our Nation's Veterans from Post-Traumatic Stress Disorder" oleh Edward Tick.
  6. Buku ini mengeksplorasi dampak perang dan trauma pada jiwa individu, menyoroti pengalaman veteran perang dan pendekatan yang holistik untuk pemulihan.
  7. "On Combat: The Psychology and Physiology of Deadly Conflict in War and Peace" oleh Dave Grossman.
  8. Buku ini menggambarkan dampak psikologis dan fisiologis dari pertempuran, termasuk diskusi tentang shell shock dan strategi untuk mengatasi trauma perang.

Referensi tambahan yang dapat dijadikan acuan adalah penelitian ilmiah dan artikel dari jurnal medis seperti Journal of Traumatic Stress, Journal of Anxiety Disorders, dan Journal of Psychiatric Research. Dengan merujuk pada sumber-sumber ini, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang shell shock dan dampaknya pada individu yang terkena dampak trauma.


Semoga Bermanfaat

Posting Komentar untuk "Shell Shock, Pengertian Sejarah dan Hubungannya dengan Kondisi Saat Ini"